Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Oktober 2017

SHARE : Review Asus Zenfone 4 Max Pro

Hi all,

Hehehe kayak blogger seleb banget ya? Yang tiap tulisan sudah menghasilkan ribuan bahkan jutaan viewer. Padahal tulisan baru sedikit, gak spesifik pula. Tapi gak apa-apa lah ya, mending masih nulis daripada gak nulis sama sekali.

Kali ini saya mau me-review salah satu gadget yang baru dilaunching tgl 25 oktober 2017 ini yaitu Asus Zenfone 4 Max Pro.


Asus Zenfone 4 Max Pro ini adalah salah satu tipe dari 5 tipe Asus Zenfone 4 yang diluncurkan (4 Live, 4 max, 4 max pro, 4 selfie & 4 selfie pro). Kelebihan dari Zenfone 4 Max Pro ini, selain dari dual kamera 16 MP + 5 MP (kamera belakang) dengan angle 120° & 16 MP (kamera depan)  adalah pada kapasitas baterainya yg mencapai 5000 mAh.

Kebayang gak? Dengan kapasitas segitu kayak bawa power bank dalam bentuk smartphone 😊. Kalau dalam kesibukan saya saat ini sebagai tukang desain & foto sekaligus chief di IHNI (ada di story yg lain) maka tuntutan untuk punya smartphone yg selalu aktif merupakan kewajiban mutlak. Karena tuntutan klien untuk desain & revisinya harus direspon dengan segera.

Hal diatas membuat saya mulai mencari gadget/smartphone yg dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Tidak harus full hidup 24 jam (walau kalau ada pilihan itu, it's heaven 😁) hidup selama 8 jam nonstop itu merupakan kemewahan. Gadget yg saya punya saat ini hanya bisa full 3 jam aktif dan harus dibantu 2 power bank untuk bisa aktif 8 jam.

Selain itu saya juga mempunyai kebutuhan akan kamera yang bagus, karena hobi dan passion di fotografi membuat saya mensyaratkan kamera yang bagus untuk gadget saya.

Kenapa memilih Asus Zenfone 4 Max Pro? Well, masalah harga yang terjangkau juga membuat saya memilih Asus Zenfone 4 Max Pro. Selain kapasitas baterai yg besar (syarat utama) juga faktor dual kamera 16 mp yg membuat saya tertarik untuk memilihnya (syarat kedua).

Cara saya mencoba Asus Zenfone 4 Max Pro adalah memulai dengan baterai penuh dan memainkan game MOBA yg terkenal "Mobile Legend" dengan wifi connection.

Kenapa melakukan test dengan game Online dan wifi connection? Agar ketahuan bahwa smartphone aktif dipakai saat pengetesan sehingga kemampuan real dari smartphone bisa diukur.

Terlihat saat baterai penuh dan info mengenai baterai dinyalakan, untuk 100% baterai estimasi baterai smartphone hidup adalah 9 jam (lihat foto). Ini saja membuat Asus Zenfone 4 Max Pro melebihi ekspektasi saya. Tetapi apakah ketika pengetesan angka itu merupakan angka real kemampuan dari baterai Asus Zenfone 4 Max Pro yang berkapasitas 5000 mAh? Kita buktikan selanjutnya.

Selanjutnya saya mulai membuka dan memainkan ML (Mobile Legend), karena saya baru install game tersebut maka saya akan memulai dari awal game alias mengikuti tutorial game tersebut sampai selesai. Hasilnya adalah waktu yang saya gunakan untuk menyelesaikan tutorial tersebut kurang lebih mencapai 15 menit, saya memainkan game tersebut hanya sampai tutorial berakhir.

Setelah mematikan game dan menyalakan baterai app, ternyata waktu aktif (game & wifi dimainkan) selama 15 menit hanya memakan fungsi baterai sebesar 4% sehingga sisa baterai yang ada tercantum sebesar 96% (lihat foto) . Sebagai perbandingan, saat saya menulis cerita dalam blog ini dalam waktu 15 menit konsumsi pemakaian baterai smartphone saya saat ini sebesar 12% dalam kondisi koneksi internet normal non wifi. Bayangkan perbedaannya mencapai 3 kali lipat (4:12), jika diambil perbandingan langsung maka kekuatan baterai Asus Zenfone 4 Max Pro aktif 3 kali lebih lama daripada smartphone yang saya gunakan saat ini. Padahal dari segi harga, Asus Zenfone 4 Max Pro jauh lebih rendah dibandingkan smartphone saya saat ini


Percobaan dan perbandingan sederhana diatas membuktikan bahwa Asus Zenfone 4 Max Pro sangat layak dimiliki untuk konsumen yang menginginkan :
1. Baterai yang besar agar bisa aktif lama
2. Dual kamera untuk fotografi
3. Harga yang terjangkau

Saya sangat puas telah mencoba smartphone sekelas Asus Zenfone 4 Max Pro ini, karena kemampuannya sesuai dengan kenyataannya. Sudah pasti saya akan menggunakan smartphone Asus Zenfone 4 Max Pro ini sebagai gadget utama saya sehari-hari

Demikian review saya kali ini, mohon maaf jika ada kekurangan dan kesalahan. Sampai ketemu dalam edisi SHARE yg lain. Thanks!

Rabu, 24 Februari 2016

Ngopi yuuukkk

Saya bukan pencinta kopi, bahkan toleransi tubuh saya dalam menyerap kafein cukup rendah. Jika orang lain bisa minum kopi bergelas-gelas dalam sehari, bagi saya cukup minum 1 gelas syrup kopi (kopi sachet) efek yg ditimbulkan bisa sampai 3 sd 4 hari lamanya. Tetapi bagi saya, kopi adalah salah satu minuman yang wajib dinikmati karena rasa yang beragam.

Pengalaman saya menikmati kopi cukup beragam, dari kopi tubruk di pedesaan sampai kopi yang disajikan oleh barista dan ahli kopi. Salah satu teman lama saya, kini sedang menekuni ilmu roasting biji kopi dan meminta saya untuk mencoba salah satu hasil roastingannya.

Kopi yang dihasilkan diberi merk “Olleto”, ada 3 jenis yang diproduksi olehnya yaitu Classic, Morning Spirit dan Misty Mountain. Ketiganya adalah Coffee Blend (campuran antara arabika dan robusta) yang dipilih khusus dari petani-petani kopi di seluruh Indonesia. Misi dari “Olleto” adalah bertumbuh dan memberikan manfaat lebih bagi petani-petani kopi di Indonesia

Saya memutuskan untuk membeli salah satu hasil roastingannya yang disimpan dalam bungkusan khusus yg tertutup rapat, namun aroma kopi yg tercium sangat wangi dan menggoda untuk segera dicicipi. Mungkin dikarenakan biji kopi tersebut baru selesai diroast sehingga aromanya masih terus keluar.
Packaging Olleto (credit to FB Iwan Setiawan)

Setelah saya diamkan dalam kantong selama 24 jam agar stabil aroma dan rasanya, saya mulai mencoba menyeduh kopi tersebut. Pertama dibuka, aromanya masih tercium dan terlihat hasil gilingannya medium. Saya baru bisa mengetest kopi dengan cara tubruk tanpa filter (ide bagus jika saya mulai membeli V60, vietnam drip, aero press, moka pot, dll sebagai variasi). Saat diseduh kopi langsung membentuk crema (buih kopi), dan aromanya lebih wangi daripada saat masih berbentuk serbuk.
Penampakan kopi tubruk Olleto

Setelah diaduk dan menunggu sebentar agar biji kopi turun ke dasar, saya mulai mencicipi dengan sendok. Rasa awalnya adalah pahit (bitter), diikuti dengan rasa air (watery) yang perlahan-lahan menghapus rasa pahit tersebut. Tidak ada rasa asam kopi yang tercecap dari kopi tersebut. Kemudian saya coba meminum/menyeruputnya, rasa yang dihasilkan sama tidak ada rasa asam kopinya. After tastenya dari kopi ini hanya rasa air yg memenuhi rongga mulut.

Meminum kopi ini mengingatkan saya akan suasana pedesaan di daerah kaki gunung bromo, jawa timur era tahun 90-an, saat itu pertama kali saya disuguhi kopi tubruk dan singkong bakar oleh kepala desa tempat saya dan teman-teman menginap sebelum mendaki ke Bromo dan Semeru. Saat itu saya baru merasakan nikmatnya rasa kopi tubruk yang mirip rasa kopi ini, sehingga membuat saya merindukan rasa singkong bakar yang menyertai minuman kopi tersebut.

Kopi yg saya minum adalah “Misty Mountain”, nama yang cocok seperti rasanya. Karena kabut di pegunungan muncul sangat pekat dan kemudian perlahan-lahan menghilang ketika hari cerah dan memunculkan keindahan alam sekitar. Bagi saya “Misty Mountain” ini cocok untuk memulai hari dengan baik dan sempurna. Thank you bro atas kesempatan untuk mencicipi kopinya :)

Yuuk kita mulai hari dengan kopi Indonesia :)